23,620 total views, 15 views today
DELIK-HUKUM.ID ( DEPOK ) — Bukti dari lemahnya pengawasan kepemerintahan setempat, itu ditandai dengan korupsi tinggi, penegakan hukum tidak konsisten, birokrasi tidak efisien, dan rendahnya kepercayaan publik.
Faktor penyebabnya meliputi lemahnya integritas penegak hukum, ketidakpastian hukum, serta konflik kepentingan di kalangan elite. Hal ini mengakibatkan terhambatnya pembangunan ekonomi, ketimpangan sosial, dan ketidakstabilan.
Hal tersebut, dengan turap di lokasi Pemakaman Umum (TPU) Kalimulya 1, Kecamatan Cilodong, saat ini ambruk. Turap tersebut merupakan proyek yang berada, di Dinas Perumahan dan Permukiman (Disrumkim) Kota Depok.
“Jadi, dengan robohnya turap tersebut, maka pihak Disrumkim Depok, dan Kontraktor Pelaksana beserta Konsultan Pengawas dinilai berpotensi merugikan keuangan negara.
“Untuk itu, dinilai, bahwa konsultan perencanaan, dinas maupun konsultan pengawas hampir merugikan keuangan negara,” ujar Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Jaringan Pemerhati Anggaran dan Akuntabilitas Warga (Jari Pandawa), Gita Kurniawan, kepada pewarta, Senin (6/4/2026).
Sebelumnya, warga Perumahan Puri Insani 2 yang tak bersedia disebutkan namanya menceritakan, bahwa turap tersebut ambruk setelah 7 bulan yang lalu, itu dibangun oleh pelaksana pemerintah setempat.
“Jadi, turap itu baru dikerjakan 7 bulanan yang lalu, sekitar Bulan Agustus tahun lalu. Ini turap punya Rumkim bukan PU,” ucap narasumber,” keluhnya.
Sumber juga mencrintakan, bahwa ini diduga proyek pekerjaan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan spesifikasi teknis. Pasalnya, dalam pembangunannya dilakukan belum genap satu tahun,” tambah sumber.
Ia juga mengutarakan, tandas Gita, bahwa dirinya pernah menyampaikan kepada Konsultan agar tebing makam TPU Kalimulya 1 itu dibuat Bronjong saja, jangan turap.
“Saya pernah bilang ke kosultan pas lagi dikerjakan, jangan bangun turap tapi Bronjong. Kalau turap, nanti percuma bakal roboh,” tukasnya.
Gita menjelaskan, bahwa nara sumber lantas merasa heran, seharusnya konsultan tahu persis teknis pembangunan turap. Ia melihat, turap baru berada dibelakang turap lama. Sehingga menurut penilaiannya, turap lama tidak kuat menahan beban, yang pada akhirnya turap baru tersebut roboh.
“Konsultan kan seharusnya tahu teknis ya, saya lihat kenapa turap lama tidak dibongkar dulu. Malah yang ada, dia bangun turap baru dengan galian dibelakang turap lama, jadi robohkan semua kan,” kilah Gita.
Gita juga menambahkan, bahwa menurut keterangan seorang keamanan Perumahan Puri Insani 2, peristiwa robohnya turap tersebut terjadi sejak 6 hari lalu. “Namun hingga kini, belum ada tindakan perbaikan,” pungkasnya.
( BOY/MUL/RED )
