16,112 total views, 3 views today
DELIK-HUKUM.ID ( TANGERANG, BANTEN ) — Lapas Kelas I Tangerang kembali menegaskan komitmennya sebagai institusi pembinaan yang produktif melalui penerimaan kunjungan studi tiru dari Lapas Kelas IIB Indramayu terkait pengembangan produksi batako berbahan Fly Ash dan Bottom Ash (FABA), Rabu (18/2)
Kunjungan tersebut merupakan tindak lanjut surat permohonan studi tiru Lapas Indramayu bernomor WP.11.PAS.UM.01.01-386 tertanggal 17 Februari 2026. Kegiatan ini semakin memperkuat posisi Lapas Kelas I Tangerang sebagai rujukan pembinaan kemandirian berbasis industri ramah lingkungan di lingkungan Pemasyarakatan.
Dalam pelaksanaannya, Lapas Kelas I Tangerang memfasilitasi rombongan Lapas Indramayu bersama perwakilan PLN Nusantara Power Unit PLTU Indramayu melalui pemaparan program dan peninjauan lapangan. Pembinaan yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga pada pembentukan karakter, peningkatan kompetensi kerja, serta pemberdayaan ekonomi warga binaan yang berorientasi pada keberlanjutan.
Rombongan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai alur produksi batako FABA, mulai dari pengelolaan bahan baku, proses pencetakan, hingga pengendalian mutu dan penerapan standar keselamatan kerja. Pemanfaatan FABA sebagai limbah sisa pembakaran batu bara diolah menjadi material konstruksi alternatif yang bernilai ekonomis dan ramah lingkungan.
Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai model pembinaan yang menempatkan warga binaan sebagai subjek pembelajaran yang aktif dan produktif. Menurutnya, “pembinaan tidak hanya diarahkan pada hasil produksi, tetapi juga pada pembentukan disiplin, tanggung jawab, dan etos kerja sebagai bekal reintegrasi sosial. Dengan demikian, mereka memiliki bekal yang kuat untuk kembali dan berperan aktif di tengah masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kegiatan Kerja Lapas Kelas I Tangerang, Aris Supriyadi, menyampaikan “bahwa optimalisasi FABA merupakan bagian dari strategi pembinaan berbasis manfaat dan keberlanjutan, serta terbuka untuk dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor. Kedepan, kami terbuka untuk memperkuat kolaborasi agar manfaatnya semakin luas,” ujarnya.
Apresiasi turut disampaikan oleh Kepala Seksi Binadik dan Kegiatan Kerja Lapas Kelas IIB Indramayu, Rachmad Putra Susanto. Ia menilai pengelolaan program di Lapas Kelas I Tangerang telah berjalan secara sistematis, terukur, dan layak dijadikan referensi dalam pengembangan program serupa di daerah.
“Kami melihat pemanfaatan FABA di sini telah terstruktur dan memberikan dampak nyata. Studi tiru ini menjadi referensi penting bagi kami untuk mengembangkan program pembinaan yang lebih inovatif, produktif, dan berkelanjutan di Lapas Indramayu,” ungkapnya.
Asisten Manajer SDM, Umum, dan CSR PLN Nusantara Power Unit PLTU Indramayu, Puri Handoko, turut menyampaikan dukungannya terhadap program tersebut. Ia menilai pemanfaatan FABA oleh Lapas Kelas I Tangerang merupakan contoh nyata sinergi antara sektor energi dan Pemasyarakatan dalam mendorong terwujudnya ekonomi sirkular (pengolahan limbah secara efektif).
“Kami mengapresiasi inovasi yang dilakukan Lapas Kelas I Tangerang. Pemanfaatan FABA menjadi batako bernilai ekonomis menunjukkan bahwa limbah industri dapat dikelola secara produktif sekaligus memberikan manfaat sosial. Ke depan, kolaborasi seperti ini sangat potensial untuk terus dikembangkan,” ujarnya.
Melalui kegiatan studi tiru ini, Lapas Kelas I Tangerang terus mengembangkan model pembinaan inovatif yang memberdayakan warga binaan sebagai insan produktif, terampil, dan siap berkontribusi positif bagi masyarakat setelah kembali ke lingkungan sosialnya. ( AGUS.W/RED )
