38,584 total views, 18 views today
DELIK-HUKUM.ID ( SULTENG ) — Polda Sulawesi Tengah [Sulteng], melalui Kabidhumas, Kombes Pol Djoko Wienartono, memberikan hak jawab sekaligus klarifikasi atas isu dugaan pembekingan dan pencatutan nama Wakapolda Sulteng Brigjen Pol Dr. Hemi Kwarta Kusuma Putra Rauf, pada aktivias Pertambangan Emas Tanpa Izin [PETI] di Kabupaten Parigi Moutong.
Secara tegas Polda Sulteng membantah seluruh tudingan tersebut. Komitmen Polda Sulteng, untuk menindak tegas praktik PETI sesuai ketentuan hukum yang berlaku tanpa tebang pilih, termasuk apabila ditemukan keterlibatan oknum aparat. Sebagaimana yang dilansir dari akun facebook Bidhumas Polda Sulawesi Tengah, yang diposting pada 14 desember 2025.
Pernyataan Polda Sulteng tersebut, diduga sekedar menepis isu, terkait semakin maraknya aktivitas PETI di Parimo, yang terkesan para pelakunya ”kebal hukum” karna dugaan adanya bekingan dari Polda Sulteng.
Pasalnya, pernyataan tersebut, terkesan bertolak belakang dengan fakta yang terjadi di lokasi PETI. Betapa tidak, aktivitas PETI di Parimo bagaikan jamur di musim hujan. Mirisnya ketika, Unit Tipiter Direskrimsus Polda Sulteng melakukan operasi penertiban, diduga tidak menemukan adanya alat berat di setiap lokasi PETI yang berada di wilayah Parimo. Kuat dugaan operasi penertiban tersebut selalu dibocorkan oleh oknum yang berinisial Ny.
Seperti halnya operasi penertiban pekan lalu, oleh Unit Tipiter Direskrimsus Polda Sulteng, informasinya, tim tersebut tidak menemukan satu pun alat berat di lokasi PETI yang berada di Parimo. Karna diduga seminggu sebelum tim bergerak, para pemodal PETI telah mendapat bocoran informasi, yang diduga bersumber dari oknum Ny.
Salah satunya lokasi PETI yang berada di Desa Karya Mandiri, yang mana, Gustiansyah dan Rifai Tendean, yang diduga sebagai pengurus PETI dan juga diduga sebagai pengumpul upeti dari para cukong PETI di lokasi tersebut. Diduga kuat telah mendapat bocoran informasi dari oknum Ny. Yang mana oknum Ny, diduga menjabat sebagai Kanit pada Unit Tipiter Ditreskrimsus Polda Sulteng.
Dari informasi yang berhasil di himpun media ini, oknum Ny diduga kuat telah lama menjalin hubungan kerja sama dengan Gustiansya dan Rifai Tendean, hal tersebut merujuk pada tiga indikasi, adanya dugaan hubungan dekat diantara mereka [Ny,Gustiansya dan Rifai Tendean], sebagai berikut.
Diantaranya, sebelum tim operasi penertiban bergerak, diduga Rifai Tendean telah mendapat informasi dari oknum Ny, sehingga para pemodal telah menyembunyikan alat berat mereka.
Selain itu, pada saat tim yang diduga dipimpin langsung oleh Ny, tiba di Desa Karya Mandiri, diduga langsung di rumah kediaman Rifai Tendean, dan yang mendampingi tim kelokasi PETI Karya Mandiri diduga Gustiansya dan Rifai Tendean.
Hal itu dibenarkan oleh beberapa narasumber media ini, kalau mereka [Ny, Gustiansya dan Rifai Tendean] diduga punya hubungan dekat, hal itu memang sudah terdengar sejak awal terbukanya tambang di Karya Mandir.
Informasi yang kami dapatkan, oknum Ny diduga sebagai peluncur Polda Sulteng terkait PETI di Karya Mandiri, sementara Gustiansya dan Rifai Tendean diduga sebagai peluncur dari oknum Ny.
”Mana berani Gustiansya dan Rifai Tendean menjadi pengurus PETI dan diduga menarik upeti dari pemodal, kalau mereka diduga tidak di back up oleh oknum Ny”, beber sumber yang diaminkan oleh rekan-rekannya, sembari meminta dentitas mereka dirahasiakan.
Masih kata sumber, terkait, tim turun di rumahnya Rifai Tendean, dan mereka berdua, bersama Gustiansya, yang diduga kawal tim kelokasi PETI, itu hampir semua masyarakat Desa Karya Mandiri yang liat.
Sumber lainnya mengatakan, benar seminggu sebelum tim turun semua alat sudah di sembunyikan di bendungan Desa Tinombala, sebagian di dusun Kadue Desa Karya Mandiri.
”Sengaja mereka [penambang] mengisukan, semua alat sudah di kasi turun, dan sudah mau pulang kampung. Faktanya, sejumlah alat tersebut diduga hanya disembunyikan. Bagaimana dorang mo pulang, sementara grup dari Marisa, yang diduga dinahkodai oleh Mas Ropik, sekitar baru tiga hari masuk bekerja, so ada informasi akan ada penertiban”. Kata sumber pada media ini, yang juga meminta identitasnya dirahasiakan itu.
Kapolda Sulteng, Irjen Pol.Dr. Endi Sutendi, S.I.K.,S.H.,M.H, melalui Kabidhumas, Kombes Pol Djoko Wienartono, yang dikirimkan pesan permohonan konfirmasi, terkesan memilih bungkam, pasalnya hingga berita ini dinaikan, belum memberikan tanggapan.
Oknum berinisal Ny yang dikirimkan permohonan konfirmasi, terkesan tidak menjawab pertanyaan wartawan media ini, Ny hanya membalas chat, dengan mengatakan, langsung kehumas saja pak. Supaya tidak ada kecurigaan, sebelum saya turun, dari satgas kehutanan sudah turun duluan, kalau tidak salah ada penangkapan di Sipayo. Tidak ada pak Waka terlibat di Parimo, cuma orang jual-jual nama.
Sementara Direskrimsus Polda Sulteng, belum berhasil dikonfirmasi, hal yang sama dengan Gustiansya dan Rifai Tendean juga belum berhasil dikonfirmasi, diduga telah memblokir kontak wartawan media ini.
( ATNAN/RED )
